10 Pertanyaan Mengenai Cacingan pada Anjing dan Kucing – TANYA DOKTER HEWAN

10 Pertanyaan Mengenai Cacingan pada Anjing dan Kucing

10 Pertanyaan Mengenai Cacingan pada Anjing dan Kucing

Kondisi cacingan pada anjing dan kucing merupakan salah satu dari sekian banyak masalah yang dikonsultasikan pemilik ke dokter hewan. Biasanya pemilik mulai khawatir kalau kucing atau anjing tiba-tiba di kotoran (pup) maupun muntahnya keluar cacing. Sontak pemilik akan kaget dan baru membawa dan konsultasi ke dokter hewan saat hal itu terjadi, lalu baru diberikan obat cacing setelah terlihat ada cacing yang keluar.

Tapi, ada juga pemilik lainnya yang memiliki kucing yang dipelihara secara indoor, tidak pernah keluar sama sekali, tidak pernah mengeluarkan cacing baik dari kotoran maupun muntahnya bertanya apakah tidak perlu diberi obat cacing? Apakah berarti kucing dan anjing tersebut tidak cacingan?

Pertanyaan-pertanyaan lainnya juga sering dilontarkan oleh pemilik hewan mengenai kasus kecacingan pada anjing dan kucing. Berikut 10 Pertanyaan Mengenai Cacingan pada Anjing dan Kucing :

1. Cacing apa saja yang menginfeksi anjing dan kucing?

Dari bentuknya, cacing yang menginfeksi anjing dan kucing terdapat 4 jenis, cacing gilig(nematoda/roundworms), cacing pita (cestoda/tapeworm), dan cacing tambang (trematoda/hookworm), cacing cambuk (whipworm).

Cacing gilig (roundworm/nematoda) yang menginfeksi anjing dan kucing diantaranya Toxocara canis, Toxascaris leonina. Bentuknya panjang gendut, membundar. Pada anjing dan kucing dengan infestasi yang parah sering ditemukan di muntah dan kotoran seperti pasta spaghetti.

Cacing pita (tapeworm/cestoda) yang menginfeksi anjing dan kucing diantaranya Dipylidium caninum, Taenia . Bentuknya pipih seperti pita, saat keluar dari tubuh bentuknya bersegmen-segmen tidak utuh. Pada kucing dan anjing sering ditemukan bentuk kecil seperti beras di anus maupun kotorannya.

Infeksi cacing pita (tapeworm) (Dokumentasi pribadi)

Cacing tambang (hookworm/trematoda) yang menginfeksi anjing dan kucing yaitu Ancylostoma caninum.  Bentuk nya panjang dengan badan sedikit berisi, jika dilihat dengan menggunakan mikroskop terlihat adanya gigi-gigi kait pada kepalanya.

Cacing cambuk (whipworm) bisa juga menginfeksi anjing dan kucing yaitu Trichuris vulpis. Bentuknya panjang dengan ujung tubuhnya seperti cambuk.

Cacing cambuk (whipworm) Trichuris vulpis pada anjing (Blagburn dan Dryden 2000)

Cacing yang sudah disebutkan diatas biasanya menyerang saluran pencernaan, namun ada juga cacing yang senang tinggal di organ lainnya yaitu jantung. Cacing ini ikut peredaran darah dan menetap di otot jantung dan pembuluh darah jantung sehingga dikenal dengan cacing jantung (heartworm) yaitu Dirofillaria immitis. Cacing ini sering menginfeksi anjing, bisa juga menginfeksi kucing.

Cacing jantung pada anjing (Nugroho (Tahun tidak diketahui))

 

2. Bagaimana anjing dan kucing bisa tertular cacing?

Anjing dan kucing bisa terkena atau tertular cacing setelah tidak sengaja telur cacing ataupun larva infektif dari cacing masuk ke tubuh melalui mulut atau bisa juga masuk langsung melalui kulit. Selain masuk secara langsung, bisa juga melalui hewan lainnya seperti pinjal dan nyamuk. Jenis penularan lain juga bisa terjadi dari induk ke anak selama kehamilan maupun masa menyusui.

Cacing yang bisa masuk melalui kulit secara langsung yaitu cacing tambang (hookworm) Ancylostoma , cacing ini memiliki kait dan gigi-gigi sehingga bisa masuk ke kulit terutama kalau kulit basah.

Cacing tambang pada anjing (Balgburn 2010)

Cacing lainnya masuk melalui mulut karena tidak sengaja menjilat ataupun makan makanan yang terkontaminasi cacing. Biasanya anjing dan kucing senang menjilati kaki nya dan menjilati juga kucing atau anjing lainnya, jika di kaki menempel tanah yang terkontaminasi telur dan larva infektif maka akan langsung masuk ke saluran cerna anjing dan kucing. Karena suasana yang sesuai, maka telur akan menetas, larva akan berkembang di saluran cerna.

Cacing yang bisa menginfeksi dengan cara ini yaitu cacing gilig (roundworm), cacing tambang (hookworm), cacing pita (tapeworm), dan cacing cambuk (whipworm).

Keempat cacing ini pun bisa ditularkan dari induk ke anak saat kondisi hamil dan menyusui, larva cacing infektif bisa masuk melalui pembuluh darah dan plasenta anjing maupun kucing, jadi anak anjing dan kucing bisa terdapat larva di saluran cerna nya bahkan sebelum lahir.

Setelah lahir, anjing dan kucing mengalami proses menyusui. Larva cacing bisa ikut masuk ke peredaran darah dan masuk juga ke kelenjar susu, sehingga anak anjing dan kucing yang menyusui bisa terinfeksi cacing dari induk.

Infeksi Roundworm (cacing gilig pada anjing dan kucing) (Balgburn dan dryden 2000)

Jenis cacing lainnya yaitu cacing jantung dan cacing pita (tapeworm) bisa menginfeksi anjing dan kucing melalui hewan lainnya. Pinjal (flea) merupakan parasit yang bisa membawa larva cacing pita, saat kucing tidak sengaja menjilat tubuhnya, pinjal bisa masuk ke tubuh dan berkembang di dalam tubuh kucing.

Sedangkan cacing jantung bisa menulari anjing melalui nyamuk, larva cacing  berkembang di tubuh nyamuk, saat nyamuk menggigit anjing, larva cacing jantung bisa masuk ke pembuluh darah anjing dan berkembang.

Cacing jantung pada anjing (Balgburn dan dryden 2000)

3.  Bagaimana  gejala kecacingan pada anjing dan kucing?

Kucing dan anjing yang mengalami cacingan bisa memperlihatkan gejala-gejala diantaranya :

1.Diare, bisa juga disertai darah.

Beberapa infeksi cacing menyebabkan luka di usus, sehingga integritas usus terganggu yang menyebabkan kotoran menjadi lembek bahkan menyebabkan diare. Cacing cambuk dan cacing tambang (ancylostoma) menempel pada permukaan usus, menyebabkan perlukaan di usus sehingga terdapat bercak darah dipupnya. Biasanya darah yang terlihat bukan darah segar (darah yang sudah bercampur kotoran dan berwarna gelap). 

2. Berat badan turun dan tidak mengalami pertambahan berat badan yang signifikan. 

Selain menyebabkan perlukaan, cacing di saluran cerna juga mengganggu penyerapan nutrisi sehingga anjing dna kucing yang terinfeksi parah bisa mengalami malnutrisi.

3. Rambut kusam dan rontok,

Kondisi tubuh yang tidak baik diserta banyaknya nutrisi yang hilang dan tidak terserap akibat parasit akan menyebabkan organ lain pun terganggu. Salah satu yang terlihat adalah pertumbuhan rambut yang berkurang, kulit kering, dan rambut kusam.

4. Perut buncit tidak proporsional 

Biasanya anak anjing dan kucing yang terlihat mengalami hal ini, perut buncit dengan badan yang kurus. Perut buncit (pot bellied) biasanya diakbatkan oleh banyaknya protein yang keluar ke rongga abdomen karena perlukaan saluran cerna. Ini juga menyebabkan kadar protein dalam darah berkurang (hypoproteinemia).

Perut buncit (pot bellied) pada anak anjing (Traversa 2012)

5. Nafsu makan menurun 

Kondisi ini terjadi kalau terjadi infestasi yang parah sehingga anjing dan kucing lemas dan nafsu makan berkurang.

Kondusu lainnya bisa terjadi sebaliknya nafsu makan tinggi tapi tidak mengalami peningkatan berat badan karena nutrisi yang diambil oleh cacing.

6. Pucat dan lemas

Infeksi cacing cambuk (whipworm) maupun cacing tambang (hookworm) bisa menyebabkan pendarahan di saluran cerna, jika pendarahan cukup parah bisa menyebabkan anemia (kekurangan darah), pucat pada mukosa (selaput lendir) dan lemas karena kurang oksigen dan kurang nutrisi.

7. Batuk, cepat lelah, sesak nafas

Kondisi ini bisa terjadi pada anjing dan kucing yang terinfeksi cacing jantung yang parah, cacing menyumbat dan menghambat kerja jantung,

8. Muntah dan kotoran ada cacing 

Kondisi ini bisa terjadi kalau cacing masuk ke saluran cerna dan organ lain termasuk saluran nafas sehingga kuing merasa tidak nyaman dan akhirnya muntah.

9. Sering menjilati bagian anus dan menggesekkan anus ke lantai 

Gatal pada bagian anus mungkin juga terjadi pada anjing dan kucing sehingga mereka ingin menggaruk dengan menggesekkan anus ke permukaan yang kasar.

Baca juga : Muntah cacing pada anjing dan kucing 

4. Bagaimana mengetahui anjing dan kucing cacingan?

Mengetahui anjing dan kucing cacingan bisa diketahui oleh pemilik jika sudah ada cacing yang keluar bersama muntah ataupun kotoran.

Selain itu, pemilik bisa konsultasi ke dokter hewan, dokter akan memeriksakan feses (kotoran kucing atau anjing) dengan menggunakan teknik tertentu. Walaupun belum terlihat ada gejala, bisa juga anjing atau kucing memperlihatkan hasil positif telur cacing saat pemeriksaan kotoran (feses).

5.  Bagaimana mencegah anjing dan kucing terinfeksi cacing?

Anjing dan kucing bisa terhindar dari infeksi cacing dengan memberikan obat cacing secara teratur.

Selain itu, perhatikan juga kebersihan makanan maupun perlengkapan dan tempat bermain anjing dan kucing.

Jika anjing senang bermain di taman, pastikan tidak memakan pup (kotoran) anjing lainnya.

Penting juga untuk pemilik segera membersihkan kotoran setelah anjing dan kucing buang kotoran. Selalu membawa kantung atau plastik untuk membuang kotoran.

Sebaiknya gunakan kotak pasir untuk kucing, dan ganti secara teratur pasir dan kotak pasir.

cek disini : membersihkan kotak pasir 

Jenis makanan pun perlu diperhatikan, usahakan kucing maupun anjing tidak berburu tikus dan hewan pengerat lainnya karena dikhawatirkan ada cacing di ototnya. Jika memberikan makanan rawfood (makanan mentah) perhatikan juga sumber daging atau ikannya, perhatikan cara mengolahnya, pastikan benar melakukan pelayuan dan pembekuan serta thawing nya agar bisa meminimalisir resiko keberadaan parasit.

6.  Kapan seharusnya memberikan obat cacing pada anjing dan kucing?

Obat cacing bisa diberikan sejak anak kucing maupun anak anjing berusia 6 minggu, bisa juga diberikan lebih awal berdasarkan saran dokter jika memang ditemukan infeksi cacing yang cukup parah.

Pemberian obat cacing juga diulangi 2 -4 minggu kemudian jika usia dibawah 6 bulan. Selebihnya bisa diberikan 2-3 bulan mengikuti siklus hidup cacing, untuk memutus siklus hidupnya.

Pemberian obat cacing pada induk sebaiknya dilakukan sebelum kawin, sehingga saat hamil dan menyusui tidak menulari anaknya.

Pemberian obat cacing sebaiknya berdasarkan saran dokter hewan, selain merujuk pada cara penggunaan berdasarkan produk, dokter juga akan memberikan saran sesuai dengan kondisi kucing maupun anjing. Jadi sangat mungkin setiap individu kucing dan anjing mendapatkan saran yang berbeda sesuai kondisinya.

7. Apakah kucing atau anjing yang tidak pernah keluar rumah (indoor) perlu diberikan obat cacing?

Ya, anjing dan kucing yang tidak pernah keluar rumah tetap perlu diberikan obat cacing. Penularan nya bisa juga dari nyamuk maupun pinjal (Seperti yang telah dibahas sebelumnya).

Tapi, kucing dan anjing saya tidak pernah terlihat mengeluarkan cacing, apa berarti anjing dan kucing saya tidak cacingan?

Mungkin saja infestasi cacing nya sedikit dan daya tahan tubuhnya baik sehingga tidak memperlihatkan adanya gejala maupun kondisi yang merujuk ke kecacingan.

Kemungkinan lainnya  memang kucing dan anjing saat itu belum terinfeksi cacing, atau daya tahan tubuhnya bisa dengan baik melawan cacing.

Karena kita sebenarnya tidak bisa menjamin lingkungan bebas dari cacing, namun bisa mengurangi resiko kecacingan dengan menjaga kebersihan dan memberikan tindakan pencegahan terhadap infeksi cacing.

Data Infeksi cacing tambang berdasarkan penelitian Oktaviana et al. 2014

Berdasarkan penelitan tersebut terlihat walaupun dipelihara dirumah (kucing rumahan/bukan kucing liar) masih ditemukan adanya telur cacing di kotoran. Studi lainnya menunjukkan juga tetap ditemukan adanya telur cacing gilig (roundworm) pada kucing rumahan.

Keberadaan cacing gilig (roundworm/Toxocara) berdasarkan penelitian Nealma et al. 2013)

 

Berarti kucing rumahan pun masih memiliki resiko terinfeksi cacing berdasarkan penelitian tersebut yaitu cacing tambang (Ancylostoma) dan cacing gilig (roundworm / Toxocara). 

 

8. Apakah cacing pada anjing dan kucing bisa menular ke manusia (zoonosis)?

Cacing yang menginfeksi anjing dan kucing bisa juga menginfeksi manusia. Cacing pada anjing dan kucing bisa menyebabkan cutaneous larva migran (cacing dibawah kulit) maupun visceral larva migran (cacing didalam otot dan organ).

Lebih lengkapnya silahkan baca disini : Penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia 

9. Apakah obat cacing untuk manusia bisa digunakan untuk kucing dan anjing?

Sering sekali saya mendapatkan pertanyaan mengenai hal ini, bahkan banyak juga pemilik yang sudah memberikan obat cacing untuk manusia kepada anjing dan kucingnya. Merk yang ada di pasaran yang biasa digunakan yaitu Combantrin dengan kandungan pyrantel pamoat bentuknya yang sering digunakan adalah bentuk syrup.

Namun, apakah bisa digunakan untuk membasmi cacing secara efektif untuk anjing dan kucing?

Ternyata penggunaannya tetap perlu dikonsultasikan dengan dokter hewan karena dosis untuk anjing dan kucing berbeda dengan dosis untuk manusia. Pemberian tidak sesuai dosis tentu akan mengurangi efektfitasnya.

Kandungan combantrin yang hanya terdiri dari 1 zat aktif yaitu Pyrantel pamoat, tidak cukup untuk membasmi keseluruhan kucing yang menginfeksi anjing dan kucing. Contohnya cacing pita, infeksi cacing pita tidak bisa dibasmi oleh zat aktif ini, sehingga perlu ada kombinasi obat cacing lainnya.

Sementara, pada obat cacing yang diformulasikan khusus untuk anjing dan kucing sudah terdapat kombinasi 2-3 zat antiparasit yang bisa lebih efektif membasmi cacing pada anjing dan kucing seperti febantel, febendazol, dan praziquantel, albendazol.  Untuk cacing jantung bisa menggunakan obat cacing yang mengandung milbemycine oxime, maupun ivermectine.

Merk obat cacing yang banyak ditemukan di petshop dan tempat perlengkapan hewan maupun tempat praktek dokter hewan yaitu drontal, petderm, caniverm, univerm, dan lain sebagainya.

10. Apakah makanan mentah untuk anjing dan kucing bisa menularkan cacing?

Bisa jika pengolahan makanan mentahnya tidak benar, karena beberapa cacing bisa bertahan di otot atau daging sapi, babi, maupun ikan. Sehingga memang pemanasan sangat disarankan untuk mengurang resiko penularan cacing pada anjing maupun kucing. Namun, jika memang tetap ingin menggunakan sistem memberi makan mentah (rawfood) pastikan bahan yang digunakan berkualitas, pengolahannya tepat, pendinginan dna pelayuannya optimal sehingga mengurang resiko infeksi cacing pada anjing dan kucing.

 

Infeksi cacing pada anjing dan kucing bisa berbahaya jika terjadi infestasi dalam jumlah yang banyak. Tindakan pencegahan penting dilakukan sebelum terjadi infeksi yang lebih parah. Konsultasi dengan dokter hewan minimal 6 bulan sekali sangat disarankan untuk menjaga kesehatan anjing dan kucing dan mendapatkan saran lebih lanjut mengenai kesehatan anjing dna kucing

Referensi :

Nugroho, TAE. (Tahun tdk diketahui). INVESTIGASI CACING DIROFILARIA IMMITIS PADA ANJING YANG DI NEKROPSI DI KOTA GORONTALO DAN PROFIL DARAH ANJING PENDERITA CANINE HEARTWORM DISEASE. Unversitas negeri Gorontalo. Investigasi-Cacing-Dirofilaria-Immitis-pada-Anjing-yang-di-Nekropsi-di-Kota-Gorontalo-dan-Profil-Darah-Anjing-yang-Terinfeksi-Canine-Heartworm-Disease-1.pdf (31 downloads)

Estuningsih SE.2005. Toxocariasis pada hewan dan bahayanya pada manusia. Wartazoa 15(3)  :136-142

Nealma S, Dwinata I, Made oka I.2013. Prevalensi Infeksi Cacing Toxocara cati pada Kucing Lokal di Wilayah Denpasar. Indonesia Medicus Veterinus 2013 2(4) : 428 – 436

Oktaviana P,  Dwinata I, Made oka I.2014. Prevalensi Infeksi Cacing Ancylostoma Spp Pada Kucing Lokal (Felis catus) Di Kota Denpasar.Buletin Veteriner Udayana 6(2) : 161-167

Traversa D.2012. Pet roundworms and hookworms: A continuing need for global worming.Parasites & Vectors 2012, 5:91

Blagburn B.2010. Novartis Internal parasite of dog and cat.Novartis animal health

Blagburn B, Dryden MW.2000. Pfizer Atlas of veterinary clinical parasitology. Pfizer animal health

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

*