Pyoderma, Penyakit kulit bernanah pada anjing dan kucing – TANYA DOKTER HEWAN

Pyoderma, Penyakit kulit bernanah pada anjing dan kucing

Pyoderma, Penyakit kulit bernanah pada anjing dan kucing

Kulit merupakan salah satu organ terpenting untuk manusia maupun anjing dan kucing. Seperti yang kita ketahui, kulit berfungsi sebagai penutup tubuh, kulit juga berperan sebagai pelindung atau pertahanan utama terhadap berbagai gangguan terutama gangguan dari luar. Kulit terlihat tipis namun ternyata kulit memiliki beberapa lapisan yang cukup kompleks. Kondisi kulit yang buruk menandakan adanya ketidakseimbangan di dalam tubuh sehingga memudahkan berbagai zat maupun agen penyakit merusak integritas (keutuhan) kulit.

Kondisi kulit yang mengalami gangguan sering kita kenal dengan penyakit kulit, penyebabnya tentu bisa bermacam-macam dikarenakan faktor internal (dalam) maupun eksternal (luar). Lebih lengkapnya silahkan baca disini : Penyebab penyakit kulit pada anjing dan kucing 

Biasanya pada anjing dan kucing, penyakit kulit termasuk hal yang sering dikeluhkan oleh pemilik. Pemilik merasa tidak betah dengan garukan anjing dan kucing yang menyebabkan luka, garuk hingga rontok dan botak, serta menimbulkan bau tidak sedap dari kulit yang luka terbuka dan bernanah.

Kenapa bisa ada nanah pada kulit dan membuat bau?

Nanah (pus) merupakan eksudat atau cairan yang keluar melalui luka yang berisi sel pertahanan, bakteri, maupun debri sel (sel-sel yang mati).

Nanah pada kulit anjing dan kucing merupakan efek dari kondisi kulit yang integritas (keutuhan) nya terganggu. Nanah merupakan ciri adanya peradangan yang disertai kontaminasi bakteri.  Kulit akan bau karena ada infeksi akibat bakteri yang menghasilkan gas, juga kelenjar keringat di kulit yang mengalami peradangan.

Kondisi radang disertai nanah pada anjing dan kucing disebut juga PYODERMA (pyo-nanah, derm-kulit).

Pyoderma pada anjing german shepherd (sumber : zoetis.ca)

Bagaimana bisa terjadi pyoderma pada anjing dan kucing?

Salah satu bakteri yang biasa menyebabkan pyoderma pada anjing dan kucing merupakan bakteri normal yang ada di kulit yaitu Staphylococcus.

Pada kondisi tubuh yang normal dan kulit yang sehat, perkembangan bakteri ini tidak signfikan.

Namun, kondisi kulit yang tidak baik (gatal, merah, lecet berdarah) disertai daya tahan tubuh yang tidak baik membuat bakteri ini semakin berkembang. Perkembangan bakteri juga didukung oleh adanya darah dan luka terbuka pada kulit, darah merupakan media yang baik untuk bakteri berkembang.

Sementara luka terbuka akan menarik sistem pertahanan, makrofag, dan sel pertahanan lainnya untuk menutup luka akhirnya timbullah nanah berwarna hijau.

Anjing dan kucing yang mengalami pyoderma akan memperlihatkan gejala, diantaranya:

1. Iritasi kulit yang semakin lama semakin parah 

Biasanya ditandai dengan gatal yang berlebihan, kemerahan di kulit, kerontokan rambut, luka yang cukup parah hingga terbuka. Pada anjing biasanya diperparah jika anjing sering menjilati dan menggigit bagian tersebut karena gatal. Pada kucing bisa menimbulkan luka lecet karena dijilat oleh duri yang tajam pada lidahnya. 

Pyoderma pada kucing (Sumber : vetbook.org)

2. Terdapat kemerahan di kulit

Merah dikulit merupakan salah satu tanda adanya radang pada kulit. Pembuluh darah aktif ke bagian yang gatal dan luka untuk mengeluarkan sel pertahanan (salah satu mekanisme tubuh).

3. Kemerahan dan luka menyebar ke seluruh tubuh

Kondisi ini sering terjadi dikarenakan daya tahan tubuh yang menurun.

4. Bau menyengat dari kulit

Kulit yang meradang, merah disertai luka dan nanah akan menimbulkan bau amis maupun bau darah.

5. Kerontokan rambut pada kulit yang terinfeksi

Rontok pada rambut disebabkan anjing dan kucing menjilati dan menggigit bagian yang gatal. Selain itu rambut rontok juga diakibatkan keutuhan kulit terganggu, jadi folikel rambut rusak dan menyebabkan rontok.

Apa yang harus dilakukan kalau anjing dan kucing mengalami pyoderma?

1. Usahakan anjing dan kucing mendapatkan nutrisi dengan baik

Kalau sudah sampai terlihat adanya nanah, kemungkinan terjadi infeksi yang cukup lama. Biasanya akan terlihat juga gejala lain selain gejala kulit karena anjing atau kucing sudah kesakitan dan tidak nyaman, seperti tidak nafsu makan dan lemas. 

Jadi, penanganan yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah meningkatkan nafsu makan dan mengembalikan energinya.

Pemberian makanan dan nutrisi yang baik juga diteruskan selama masa penyembuhan. Asupan makanan sangat mempengaruhi kondisi tubuh dan mempercepat persembuhan.  Dokter mungkin akan memberikan beberapa saran jenis makanan jika memang ada indikasi alergi.

2. Periksakan ke dokter hewan

Segera periksakan ke dokter hewan, dokter akan melihat dan memeriksa secara menyeluruh kondisi kulit anjing dan kucing. Jika diperlukan dokter akan melakukan pemeriksana lanjutan dengan melakukan pemeriksaan eksudat dan bagian yang terinfeksi dengan mikroskop (teknik pewarnaan Gram) maupun kultur bakteri untuk melihat bakteri yang menginfeksi.

Dokter akan memberikan saran terapi sesuai dengan diagnosanya, jika mengalami pyoderma dokter akan memberikan antibiotik, terapi mandi mungkin bisa disarankan dokter dengan shampoo khusus, biasanya untuk kasus seperti ini perlu juga rambut dicukur untuk mempermudah pengobatan dan mempercepat persembuhan. (terapi ini tentu dilakukan berdasarkan saran dokter, terapi yang tidak tepat akan memperburuk kondisinya)

3. Pisahkan anjing yang sakit dengan anjing lainnya

Kondisi kulit pada anjing dan kucing bisa menular terutama kalau infeksinya dsebabkan oleh pinjal, kutu, maupun jamur jika bersentuhan bisa menular.

4. Bersihkan kandang, jaga tetap kering

Kebersihan kandang perlu diperhatikan, kondisi lembab, kotor, gelap, dan pengap bisa memperburuk kondisi anjing, kucing, serta memperparah kondisi kesehatan kulitnya.

5. Lakukan terapi dan berikan obat sesuai saran dokter

Pengobatan penyakit kulit termasuk pyoderma bisa memakan waktu yang lama, sehingga pemilik harus sabar dan telaten. Pemberian obat juga harus teratur jangan malas memberikan obat dan kontrol ke dokter. Obat yang diberikan terutama antbiotik perlu diberikan sesuai resep, jika tidak diberikan secara berkala dan sesuai persembuhan akan lama. Bahkan bakteri bisa juga resisten (kebal) terhadap obat akibatnya tidak efektif lagi obatnya.

Apakah ada jenis anjing dan kucing yang cenderung lebih sering mengalami kondisi pyoderma?

Sebenarnya pyoderma bisa terjadi pada anjing dan kucing usia dan jenis apa saja. Namun, jika anjing maupun kucing memiliki jenis kulit yang lembab, dan berlipat-lipat resiko terkena kondisi ini akan lebih tinggi.

Kucing dengan hidung pesek dan rambut yang panjang, jika tidak dirawat dengan benar akan membuat kulit dan rambut lembab, terutama di bagian hidung karena kulit bagian tersebut melipat, akan mudah lembab dan terinfeksi jamur. Pada kondisi ini sangat mungkin juga terkena infeksi bakteri yang menyebabkan pyoderma.

Begitu juga dengan anjing dengan kulit yang berlipat seperti Bulldog, Chinese shar-pei memiliki kulit yang melipat-lipat, pada beberapa jenis juga memperlihatkan lipatan yang ekstrem.

Jika tidak rajin dibersihkan pada bagian yang melipat, bisa juga menjadi lembab dan mudah mengalami radang dan infeksi bakteri pada bagian tersebut.

Pyoderma pada lipatan kulit bagian hidung anjing English Bulldog (sumber : Scharer M, Gaschen F.2016)

 

Bagaimana cara mencegah pyoderma pada anjing dan kucing?

Anjing dan kucing dengan gaya hidup yang baik, makanan sesuai, kondisi lingkungan yang nyaman, tidak lembab, dan bersih bisa menurunkan resiko penyakit kulit termasuk pyoderma.

Hal lain yang perlu dilakukan oleh pemilik yaitu :

  1. Rutin memperhatikan kondisi kulit anjing dan kucing
  2. Jika memiliki anjing dengan kulit berlipat, sebaiknya rajin diperhatikan dan dibersihkan, pastikan tetap kering
  3. Mandikan secara teratur terutama anjing rambut panjang
  4. Jika menggunakan rantai, pastikan tidak terlalu kencang yang bisa melukai kulit dan menyebabkan infeksi
  5. Sisir rambut kucing setiap hari terutama kucing rambut panjang
  6. Berikan treatment rutin antikutu
  7. Perhatikan reaksi setiap memberi makanan baru atau melakukan pergantian makanan, jika gatal sebaiknya konsultasi ke dokter sebelum ada infeksi
  8. Memberikan suplemen maupun vitamin sesuai dengan saran dokter hewan
  9. Konsultasi rutin dengan dokter hewan minimal 6 bulan sekali

Keberhasilan pengobatan dipengaruhi juga oleh peran pemilik, kenyamanan dan kondisi anjing dan kucing, serta komunikasi dengan dokter hewan.  Pastikan anjing dan kucing mendapatkan perawatan terbaik, anjing dan kucing sehat akan membuat pemilik nyaman dan tenang.

Referensi :

Schaer M, Gaschen F.2016. Clinical medicine of the dpg and cat. CRC press

Nuttal T, Harvey GR, McKeever PJ.2009. a colour handbook of disease of the dog and cat. Manson Publishing

 

Leave a Reply

*