WAJIB TAHU 6 Penyakit ini bisa menular dari anjing dan kucing ke Manusia – TANYA DOKTER HEWAN
WAJIB TAHU 6 Penyakit ini bisa menular dari anjing dan kucing ke Manusia

WAJIB TAHU 6 Penyakit ini bisa menular dari anjing dan kucing ke Manusia

WAJIB TAHU 6 Penyakit ini bisa menular dari anjing dan kucing ke Manusia

Hewan dan manusia, saat ini berbagi lingkungan dan tempat tinggal yang sama.
Sering berbagi, tentu membuat kontak antara hewan dan manusia semakin intens.

Terlebih lagi beberapa hewan yang sejak lama dimanfaatkan manusia sebagai sumber penghasilan (hewan ternak) dan sumber kesenangan (hewan peliharaan seperti anjing dan kucing ), tentu memiliki ikatan yang erat dengan manusia.

Salah satu yang juga bisa “dibagi” yaitu agen penyakit, karena penyakit tidak mengenal daerah dan beberapa juga tidak mengenal spesies, bisa menular dari hewan ke manusia.

“Disease know no boundaries”

Disclaimer : Artikel ini tidak bertujuan untuk menakuti penyayang anjing maupun kucing ya. Tapi tujuannya untuk lebih mengenal secara dekat sehingga mendapatkan manfaat dengan menjaga kesehatan anjing dan kucing untuk kenyamanan dan kesehatan pemiliknya. Seperti slogan kami “Healthy pet, Healthy life”.

Zoonosis, penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia

Penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia dikenal dengan Zoonosis, agen yang menyebarkannya bersifat zoonotik (zoonotic). Berbagai lembaga kesehatan dunia termasuk WHO dan OIE memiliki berbagai info penting mengenai zoonosis ini.

Bagaimana caranya anjing maupun kucing bisa menularkan penyakit ke manusia ?

> Penularan penyakit dari hewan ke manusia bisa melalui kontak secara langsung dengan hewan yaitu melalui gigitan hewan terinfeksi contohnya adalah penyakit Rabies.

> Selain melalui gigitan, bisa juga melalui cara lain  seperti memegang langsung hewan yang terinfeksi, kondisi ini bisa terjadi pada hewan yang terinfeksi parasit dan jamur di kulit. Jika kita menyentuh secara langsung dan daya tahan tubuh sedang kurang baik, akan sangat mudah terinfeksi.

Anjing dan kucing  yang terinfeksi juga tidak bisa menularkan secara langsung. Namun, hewan yang terinfeksi hanya menjadi inang (host/induk semang) dari parasit tersebut. Setelah menjadi fase yang bersifat infektif maka bisa menular ke manusia. Contoh kasusnya adalah toxoplasmosis, leptospirosis, cutaneous larva migran, dan visceral larva migran.

Pada beberapa kasus ini, parasit keluar dari tubuh hewan yang terinfeksi melalui feses (kotoran/pup) dalam bentuk ookista, maupun telur, dan larva infektif. Fase dari parasit ini lah yang bisa menularkan ke manusia, bukan hewan nya secara langsung.  Sehingga, tidak perlu khawatir untuk tetap mengelus ataupun memberi makan anjing maupun kucing.

Penyakit di dunia jumlah nya cukup banyak, namun kami merumuskan 6 penyakit yang bisa ditularkan hewan peliharaan (terutama anjing dan kucing ) ke manusia. Berikut adalah 6 penyakit yang bisa ditularkan dari anjing dan kucing ke manusia:

 

#1 Penyakit Rabies

Rasanya sudah tidak asing lagi mendengar kata rabies, biasanya masyarakat mengenal penyakit ini dengan sebutan “Anjing Gila”.

Penyebab : Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies (Virus Lyssa) termasuk golongan virus rhabdoviridae, virus ini menyukai sel syaraf dan berdiam diri di bagian otak. Sehingga gejala klinis yang terlihat yaitu tidak adanya koordinasi antara bagian tubuh sehingga tubuh tidak terkontrol dan menyebabkan kematian.

Indonesia masih berjuang untuk membebaskan dari rabies, karena beberapa daerah masih belum bebas terhadap kasus rabies.

Penularan : Penularan rabies melalui gigitan dan air liur hewan penular rabies (tidak hanya anjing, tapi bisa juga kucing, musang, monyet).

Rabies berakibat fatal bagi hewan maupun manusia, tingkat kematiannya (mortality rate) mencapai 99 %. Sebagian besar kejadian kasus rabies di manusia menyerang anak dibawah 15 tahun sekitar 40 % (WHO rabies fact).

Pencegahan: Rabies merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Melakukan vaksinasi hewan peliharaan terhadap rabies bisa mengurangi kejadian kasus rabies terutama di Indonesia.

Info lengkap rabies bisa cek disini ya : Penyakit Rabies

Ciri Anjing Rabies dan Bahayanya Bagi Manusia

#2 Penyakit Helminthiasis (infeksi cacing )

Penyebab : Cacing tambang (hookworm) yaitu Ancylostoma caninum, cacing gelang (roundworm) yaitu Toxocara cati, Toxocara canis.

Penularan: Infeksi cacing pada anjing maupun kucing sangat mungkin terjadi, penularan nya bisa terjadi dari induk ke puppies atau kitten saat didalam kandungan (transplacental) dan saat menyusui (transmammary), bisa juga terinfeksi dari tanah maupun lingkungan yang terkontaminasi oleh feses hewan yang terinfeksi (terdapat telur dan larva infektif).

Baca ini: Muntah cacing pada anjing dan kucing 

Pada manusia, penularan bisa terjadi secara langsung masuk melalui kulit menyebabkan Cutaneous Larva Migran, tidak sengaja masuk ke dalam tubuh menyebabkan Visceral Larva Migran.

Cacing pada kulit (cutaneous larva migran)

Penyebab : Cutaneous larva migran disebabkan oleh hookworm (cacing tambang) seperti Ancylostoma, yang masuk secara langsung melalui kulit, lalu cacing akan menetap dibawah kulit. Gejala di manusia : Gejala yang timbul berupa gatal, merah, dan terlihat ada luka seperti benang atau tali di bawah kulit.

Gejala hewan yang terinfeksi : Pada anjing maupun kucing, infeksi cacing tambang (hookworm) bisa menyebabkan feses berdarah, anemia, lemas, kehilangan darah berlebihan jika infeksi nya sangat parah, bahkan menyebabkan kematian.

Anak-anak akan lebih mudah terpapar karena senang bermain di pasir dan air.

Cara penularan : Cacing bisa menular ke manusia dengan masuk langsung ke kulit berupa larva. Larva menetas dari telur yang berada di tanah terutama tanah yang lembab dan basah. Telur cacing ini berada di tanah yang terkontaminasi feses (pup/kotoran) dari hewan terinfeksi kemudian berkembang.

 

Siklus cacing penyebab infeksi pada kulit (www.cdc.gov)

Pencegahan di hewan : Pemberian obat cacing pada anjing maupun kucing bisa membantu mengurangi kemungkinan infeksi cacing pada hewan peliharaan dan penularannya pada manusia terutama anak-anak. Obat cacing yang diberikan sebaiknya obat cacing khusus kucing maupun anjing karena dosis dan kandungannya sudah disesuaikan berdasarkan kebutuhan. Waktu pemberian obat cacing bisa 1 hingga 3 bulan sekali, tergantung keparahan kondisi, lingkungan, dan tentunya berdasarkan pemeriksaan dan saran dokter hewan

Pencegahan pada manusia : Pada manusia, pencegahan yang bisa dilakukan adalah segera membersihkan diri dan cuci tangan setelah melakukan aktifitas di pasir, tanah, dan kebun.

Sulit untuk melarang anak-anak tidak main di pasir, karena pasir juga memiliki manfaat untuk perkembangan motorik dan kreatifitas anak.

Oleh karena itu sebagai orang tua kita perlu melakukan tindakan untuk segera memandikan anak dan mencuci tangan setelah beraktifitas di pasir, serta jangan lupa juga berikan obat cacing.

Anjing maupun kucing memang tidak bisa dihindari untuk membuang kotoran di tanah dan pasir halaman, oleh karena itu kita sebagai pemilik perlu bertanggung jawab membersihkannya.

Infeksi cacing di kulit
(www.aocd.org)

Visceral larva migran (cacing yang ada di organ)

Penyebab : Keberadaan parasit di berbagai organ dalam manusia, bisa diakibatkan oleh cacing gelang (roundworm) seperti Toxocara yang tidak sengaja masuk ke tubuh manusia melalui mulut.

Cara Penularan : Cacing gelang menginfeksi kucing maupun anjing sejak dalam kandungan melalui placenta (transplacental), atau bisa juga melalui induk saat menyusui (transmammary), selain itu bisa juga tertular dari lingkungan terutama tanah yang terkontaminasi feses (pup/kotoran) hewan lain yang terinfeksi.

Cara penularan ke manusia : Penularan di manusia bisa terjadi karena telur cacing maupun larva cacing berkembang di lingkungan (terutama tanah). Masuk ke tubuh melalui mulut, misalnya tidak mencuci tangan setelah memegang pasir, maupun berkebun. Atau anak kecil yang tidak mencuci tangan setelah bermain di tanah dan pasir, sangat mungkin juga tidak sengaja menelan telur atau larva cacing.

Gejala pada hewan : Hewan yang terinfeksi pada jumlah infeksi yang besar bisa memperlihatkan gejala cacingan seperti lemas, perut membuncit secara tidak wajar, muntah cacing, feses (pup/kotoran) terdapat cacing.

Gejala pada manusia : Pada manusia, bisa memperlihatkan gejala gangguan pencernaan seperti mual, nafsu makan berkurang, tidak nyaman di perut, bahkan pada anak kecil bisa menyebabkan adanya cacing di dalam mata.

Pencegahan : Pemberian obat cacing pada anjing maupun kucing bisa membantu mengurangi kemungkinan infeksi cacing pada hewan peliharaan dan penularannya pada manusia terutama anak-anak. Obat cacing yang diberikan sebaiknya obat cacing khusus kucing maupun anjing karena dosis dan kandungannya sudah disesuaikan berdasarkan kebutuhan. Waktu pemberian obat cacing bisa 1 hingga 3 bulan sekali, tergantung keparahan kondisi, lingkungan, dan tentunya berdasarkan pemeriksaan dan saran dokter hewan

Pencegahan pada manusia : Menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan dengan sabun setelah beraktifitas merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir masuknya larva cacing ke dalam mulut. Terutama pada anak-anak sangat penting cuci tangan setelah bermain dan sebelum makan.

Jika senang membawa anjing untuk membuang kotoran di taman sembari berjalan-jalan sebaiknya bawa kantung pup atau kantung kotoran agar kotoran bisa diambil dan tidak mencemari.

Infeksi cacing pada tubuh (www.cdc.gov)

#3 Penyakit Leptospirosis

Penyebab : penyakit ini disebabkan oleh Bakteri Leptospira. Bakteri ini bisa menginfeksi manusia melalui urine atau air yang terkontaminasi kencing (urin) hewan yang terinfeksi.

Leptospirosis hewan perantaranya terutama tikus, bakteri ini bisa juga menyerang hewan anjing, sapi, babi, dan menginfeksi manusia. Tempat yang lembab, berair, menggenang, dan kondisi banjir, merupakan resiko tinggi tempat penularan penyakit ini.

Cara penularan : Air yang terkontaminasi urine (kencing) atau cairan tubuh lain (darah) akan masuk ke tubuh langsung melalui kulit yang basah, kulit yang luka.

Bakteri yang masuk ke dalam tubuh melalui pembuluh darah, akan berkembang di dalam ginjal.

Manusia merupakan inang terakhir, urin manusia tidak bisa menularkan ke hewan maupun manusia lainnya.

Gejala pada hewan : Leptospirosis bisa menyerang pada anjing, infeksi pada anjing bisa berasal dari lingkungan yang terkontaminasi maupun dari hewan lain seperti tikus. Anjing yang terinfeksi akan memperlihatkan gejala lemas, kulit menjadi kuning, muntah, tidak nafsu makan, sering minum, sakit saat kencing, bahkan susah kencing.

Gejala pada manusia : Pada manusia, gejala leptospirosis terlihat mirip seperti gejala penyakit lainnya yaitu mual, muntah, demam, nyeri pada berbagai daerah tubuh. Sehingga sangat mungkin sekali terkelirukan dengan penyakit lainnya seperti demam biasa.

Pencegahan : Pada anjing, vaksinasi bisa dilakukan untuk memberikan pertahanan tubuh anjing terhadap penyakit leptospirosis. Vaksinasi leptospirosis pada anjing dilakukan bersamaan dengan vaksin anjing yang lain yaitu distemper, hepatitis, parainfluenza, parvovirus.

Pada manusia, pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga sanitasi lingkungan terutama jika ada hama hewan pengerat seperti tikus. Pastikan tidak ada air yang menggenang, jika ada penampungan air, pastikan tertutup dan tidak memungkinkan hama tikus masuk. Sebaiknya tidak membiarkan luka terbuka, terutama jika bekerja di tempat yang kontak dengan air dan beresiko. Jika memiliki anjing, tetap jaga kebersihan kandang dan kesehatannya. Setelah menangani anjing yang sakit perlu mencuci tangan dengan sabun.

Pengobatan : Infeksi leptospirosis pada anjing selain dilihat dari gejalanya, bisa juga dipastikan dengan menggunakan test kit (pada beberapa klinik atau tempat praktik ada yang menyediakannya). Jika hewan dinyatakan positif, maka akan diberikan terapi dengan menggunakan antibiotik.

Pada manusia, pemberian antibotik juga dilakukan dengan jangka waktu yang cukup lama.

Cara Penularan Leptospirosis pada manusia (Victoriano et al. 2009)

#4 Penyakit Toxoplasmosis

Penyebab : Toxoplasmosis sepertinya sudah tidak asing lagi ya, sangat familiar terutama dikalangan ibu hamil, maupun para pecinta kucing. Toxoplasmosis disebabkan oleh protozoa Toxoplasma, yang inang atau hewan perantaranya adalah bangsa kucing. Toxoplasma bisa menginfeksi setelah keluar dari tubuh yaitu di pada feses kucing (fase ookista infektif) yang mengkontaminasi tanah.

Silahkan Baca ini: 10 Fakta Toxoplasmosis

Sumber penularan : Infeksi terjadi karena masuknya ookista yang berada di feses kucing melalui mulut. Kemungkinan bisa terjadi kalau setelah membersihkan kotoran (pup) tidak mencuci tangan dengan sabun.

Selain karena kurang nya higiene diri dengan tidak cuci tangan, bisa juga diakibatkan memakan daging mentah dari hewan (sapi, domba) yang terinfeksi Toxoplasma. Atau memakan sayuran mentah yang tidak dicuci dan kemungkinan tanahnya terkontaminasi parasit ini.

Pada mamalia dan unggas, bisa terinfeksi parasit Toxoplasma namun tidak bisa menularkan nya dari kotoran (pup). Hal ini disebabkan hewan selain bangsa kucing yang terinfeksi parasit ini, parasit tidak bisa berkembang di saluran cerna. Namun, Toxoplasma akan berada di otot dan parasit pun akan mati sesuai jika dipanaskan lebih dari 70° C. Sehingga proses pemasakan sangat penting untuk membunuh parasit ini.

Gejala klinis pada hewan : kucing yang terinfeksi Toxoplasma tidak akan menimbulkan gejala yang spesifik. Namun, untuk memastikan bisa dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan test kit.

Gejala klinis pada manusia : Toxoplasma bisa menular pada wanita maupun pria. Gejala klinis penyakit ini mirip dengan penyakit lainnya yaitu demam, sakit pada persendian, mual. Namun jika menyerang wanita yang sedang hamil bisa juga menyebabkan keguguran, maupun kelainan pada janin. Untuk pria, jika infeksi berlangsung kronis bisa juga menyebabkan kemandulan. Toxoplasma sangat senang tinggal di otot dan organ, bahkan infeksi parasit ini bisa menyebabkan infeksi pada mata.

Pengobatan : Infeksi Toxoplasma bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex virus), biasanya test ini dilakukan pada individu (terutama wanita) yang memiliki riwayat keguguran berkali-kali atau individu lain yang terdapat indikasi khusus berdasarkan saran dokter. Jika saat pemeriksaan ternyata hasilnya positif terinfeksi, bisa dilakukan treatment berdasarkan saran dokter. 

Pencegahan :

> Menjaga sanitasi dan higiene setelah kontak dengan feses kucing (membersihkan litterbox, mengambil kotoran kucing) merupakan salah satu yang bisa dilakukan yaitu tidak lupa mencuci tangan dengan sabun.

> Pup atau kotoran kucing sebaiknya dibersihkan setiap hari untuk meminimalisir perkembangan parasit menjadi infektif.

> Wanita hamil sebaiknya menggunakan sarung tangan saat membersihkan kotoran kucing, atau jika memang ada anggota keluarga lain yang bisa membantu, sangat disarankan untuk menyerahkan tugas ini ke anggota keluarga lainnya.

> Sebaiknya, tidak mengonsumsi makanan yang mentah dan setengah matang karena jika di daging tersebut terdapat parasit, maka parasit akan masih bertahan jika tidak dilakukan pemanasan.

Jika memang kucing maupun anjing nya diberikan makanan mentah (rawfood) pastikan sumbernya jelas, berkualitas, dan teknik pengolahannya benar. Jika memberikan makanan untuk kucing dengan cara prey hunting (memburu) sebaiknya memberikan mencit yang diternakkan karena mencit yang diternakkan kebersihannya lebih terjaga.

 

#5 Penyakit Ringworm (dermatofitosis/infeksi jamur pada kulit)

Penyebab : Anjing dan kucing sangat mungkin mengalami penyakit kulit termasuk salah satunya infeksi kulit karena jamur dermatofita. Salah satu kapang yang sering menginfeksi yaitu Kapang Trichophyton menyebabkan ringworm (tinea), bahasa awamnya adalah Kurap.

Gejala klinis : pada hewan akan terlihat kebotakan (kerontokan rambut) disertai dengan adanya bentuk luka membulat, kemerahan, dan gatal. Pada manusia akan terlihat adanya luka membulat, kemerahan, gatal, dan terkadang panas.

Penularan : Penularan dari hewan ke manusia bisa terjadi akibat menyentuh langsung kulit yang terinfeksi lalu tidak cuci tangan. Kondisi daya tahan tubuh yang baik, bisa juga tidak terinfeksi, namun ketika daya tahan tubuh menurun (kondisi tubuh sedang tidak fit) sangat rentan terinfeksi.

Pengobatan : Pada anjing, kucing, maupun manusia yang terkena infeksi ini bisa ditangani dengan menggunakan salep anti jamur, sabun antiseptik yang mengandung sulfur, obat oral (minum) jika diperlukan berdasarkan resep dokter. Terapi mandi jika diperlukan untuk infeksi yang parah pada anjing dan kucing.

Penggunaan VCO maupun minyak zaitun bisa diberikan untuk mengurangi kerak pada kulit serta menambah nutrisi kulit, sehingga mempercepat persembuhan.

Pencegahan : mempraktikkan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang hewan terinfeksi bisa menjadi pencegahan yang paling mudah dilakukan.

Gejala ringworm pada manusia

#6 Penyakit Scabies

Penyebab : Scabies disebabkan oleh tungau keluarga Sarcoptidae, yaitu Sarcoptes scabiei atau bisa juga tungau lain seperti Notoedres cati. Tungau ini menginfeksi anjing, kucing, kelinci, guinea pig, hamster sehingga mengalami gangguan kulit dan menyebabkan radang.

Gejala : Infeksi tungau scabies pada kulit akan memperlihatkan kulit menjadi keras (hiperkeratosis), disertai kebotakan, kemerahan dan berdarah (karena digaruk), gatal, dan bernanah (jika mulai ada infeksi lanjutan dari bakteri.

Pada manusia, gejala nya akan memperlihatkan adanya gatal disertai ruam kemerahan.

Pengobatan : Infeksi tungau scabies bisa diobati dengan memberikan obat anti parasit secara suntik pada anjing dan kucing.

Pada manusia, infeksi scabies bisa diobati dengan salep yang mengandung antiparasit.

Penggunaan vco ataupun minyak zaitun bisa juga diberikan untuk mengurangi kerak, namun perlu diperhatikan saat mengaplikasikan ke kucing maupun anjing sebaiknya menggunakan sarung tangan.

Pencegahan : sebaiknya menggunakan sarung tangan ketika memegang hewan dengan infeksi yang parah. Biasakan mencuci tangan setelah berinteraksi dengan hewan yang terinfeksi.

 

Penyakit pada hewan yang menular ke manusia pada dasarnya bisa dicegah dengan membiasakan pola hidup sehat untuk diri sendiri, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Pada hewan peliharaan penting juga dilakukan vaksinasi dan pemeriksaan rutin ke dokter hewan untuk menjaga kesehatan hewan dan mendapat saran sesuai dengan kondisi hewan.

*P.S Jika ada yang ingin ditanyakan/didiskusikan jangan sungkan bertanya melalui komentar di bawah ini ya.
Jangan lupa juga share artikel ini agar informasinya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Drh Puspasari Respatiningtyas.
https://tanyadokterhewan.com

Reference :

25 Penyakit hewan menular strategis di indonesia : Keputusan menteri no 4026/Kpts./OT.140/3/2013

Toxocariosis ( https://www.cdc.gov/dpdx/toxocariasis/)

Cutaneous larva migran (www.cdc.gov/parasites/zoonotichookworm)

Victoriano AFB, Smythe LD, Gloriani -Barzaga N, Cavinta L, Kasai T, Lmpakarnjanarat K, Ong LB, Gongal G, Hall J, Coulombe A, Yanagihara Y, Yoshda S, Adler B. 2009. Leptospirosis in the asa pacific region. BMC infectious disease 9: 147

 

Leave a Reply

*